jingga.

jingga.

entah kenapa gue itu cukup baperan kalau denger lagu.

dan lagu yang paling sering gue denger sekarang ini, like, every single time, itu Jingga-nya Fatin. bahkan sekarangpun lagi gue dengerin sambil nulis ini di kantor.

dulu pertama kali denger lagu ini, gue mikir ‘bahaya, nih!’

lagu ini rentan banget dialami sama orang ketika menjalani hubungan. in case you guys haven’t heard the song, gue bakal tampilin liriknya. there you go!

Kita tlah bersama sekian lama
Namun ku tak lagi merasa
Rindu yang sama, cerita kita
Mengalir ke persimpangana rasa
 
Kau tlah berubah
Abaikan kisah kita
 
Jingga di ujung langit
Menuntun kita pada
Malam yang tak berbintang
Hingga kini terasa terhapus semua janji
Yang pernah terucapkan
 
Dan apabila kita berpisah
Apakah semua kan berbeda
 
Kau tlah berubah
Abaikan kisah kita

Jingga di ujung langit
Menuntun kita pada
Malam yang tak berbintang
Hingga kini terasa terhapus semua janji
Yang pernah terucapkan

Jingga di ujung langit
Menuntun kita pada
Malam yang tak berbintang
Hingga kini terasa terhapus semua janji
Yang pernah terucapkan

Jingga di ujung langit
Menuntun kita pada
Malam yang tak berbintang
Hingga kini terasa terhapus semua janji
Yang pernah terucapkan

lagu ini liriknya ditulis sama Fatin sendiri. menurut gue liriknya puitis, dalem, tapi gak lebay. that’s why lagu ini langsung kerasa enak pas pertama kali denger. dan gue ngerasa bahwa lagu ini juga bisa jadi pembuktian Fatin yang semakin dewasa dalam bermusik. dengan penampilan yang makin stylish, video musik yang digarap serius. komplit banget!

eitsss…

tapi bukan cuma tentang lagu ini yang mau gue ceritain. lebih ke apa yang sedang gue alamin.

seperti yang tadi gue bilang bahwa lirik lagu ini rentan banget dialami sama orang yang sedang dalam hubungan. dan yang gue takutkan sekarang adalah mengalami apa yang Fatin rasakan, di hubungan gue yang nyata.

entah kenapa gue ngerasa hubungan yang gue jalanin gak terlalu berjalan mulus. gue tahu, setiap hubungan pasti ada aja ketidakcocokan. namanya juga hubungan, terdiri lebih dari satu kepala yang pasti memiliki perspektif masing-masing yang gak gak mudah di satuin, atau bahkan sama sekali gak bisa.

satu-satunya cara ya paling cuma saling ngerti. mungkin salah gue juga yang masih belum bisa mengalah untuk beberapa kasus. bukan mengalah sih, menurunkan ego gue sendiri lebih tepatnya. gak banyak menuntut. cuma biarin semuanya mengalir gitu aja.

gue gak mau sebenernya ngomong kayak gini, tapi lagu ini bener-bener ngewakilin perasaan gue sekarang.

mungkin bukan gue yang banyak minta. karena emang dari awal kita udah gak sejalan. jadi kesannya gue minta ini itu, minta dia berubah. padahal enggak sama sekali.

ini murni kesalahan gue, itulah kenapa seharusnya gue punya jarak buat saling kenal dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk bareng. daripada akhirnya kayak gini? siapa yang bisa disalahin?

buat apa punya pasangan kalau kemana-mana sendiri, bahkan ketika ngelakuin sesuatu yang kita suka juga. terus pasangan itu buat apa? cuma buat sekedar yakinin diri kita kalau ada orang yang bakal bilang ‘i love you’ tiap hari? ngingetin makan? itu aja?

gue gak mau dia berubah hanya karena untuk bikin gue seneng. percuma gue seneng kalau gue aja gak tahu isi hatinya gimana ketika mencoba menyamakan atau membiasakan dirinya dengan apa yang gue suka.

masa gue harus kayak gini dulu, gue harus diem dulu, gue harus jujur sama perasaaan gue dulu sampai akhirnya dia tahu apa yang gue mau? capek gak, sih?

ya mungkin dia juga capek dengan sikap gue. ya balik lagi dong, intinya kita emang gak sejalan. jangan sampai ada yang merasa terpaksa, lelah. apa ini yang dinamakan hubungan yang sehat?

kalau mau dipertahankan pun karena alasan apa lagi?

gue cuma mau bilang,

kamu gak perlu berubah, jadi diri kamu sendiri.

masalahnya bukan didiri kamu,

mungkin, aku bukan orang yang bisa menerima kamu. 

tidak perlu memaksakan apa yang tidak kamu suka, apa yang tidak kamu mau.

aku tidak sejahat itu.

mungkin yang kita butuhkan adalah waktu untuk saling memahami

atau bahkan jarak untuk bisa saling mengerti.

untuk sekedar meyakinkan apakah masih ada rindu,

atau justru baik-baik saja tanpa bertemu? 

aku tidak bisa berbohong,

aku sangat menyangimu.

tapi aku tak sejahat itu, jika hanya membebanimu

jika tak kau temui apa yang kamu cari didiriku.

xx

gin-andtonic

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s