serendipity.

serendipity.

Kalau kamu ingin tahu, sebenarnya dari dulu aku sudah tidak ingin berharap apa-apa lagi pada manusia. Terlebih tentang perasaan. Anggap saja aku sudah lelah. Meski hati masih saja ingin berjuang, namun telinga kadang tak tahan mendengar olokan mereka. Semuanya terdengar seakan aku yang salah. Mereka bilang, jika aku masih tetap ingin mencari keseriusan, aku hanya membuang waktu. 

Sempat aku terpengaruh, dan tentu membuat pemikiranku semakin keruh. Mereka tak sepenuhnya salah. Itulah mengapa dulu aku sempat menyerah. Mungkin lebih tepatnya aku hanya ingin menunggu saja, bukan mencari. Walau jujur, menunggu adalah salah satu hal yang paling aku benci.

Sebetulnya, setelah hampir dua tahun berlalu ketika perjalananku dengannya menemui akhir, aku masih cukup sulit untuk bisa melepaskan bayangannya. Maksudku, kadang aku ingin mencari sosoknya di tubuh seseorang yang baru. Aku tahu itu sangat tidak benar, mungkin alasan itulah yang juga membuatku seakan terjebak dalam perangkapku sendiri. 

Sebelum akhirnya aku menemukanmu, aku sempat mencoba lebih dekat dengan beberapa kepala lain. Sayangnya, kepala-kepala itu isinya hanya sebatas area setelah perut dan sebelum lututmu. Aku manusia biasa, aku juga memikirkan hal itu. Tapi tentu saja bukan itu yang kuutamakan. Ada hati yang tak bisa ku lewatkan begitu saja, dan posisinya hanya sedikit di bawah logikaku. 

Tanpa aku jelaskan, kamu sangat paham bahwa dulu aku sempat ragu. Bukan karena kamu tidak seperti yang aku inginkan, tapi ini semua terasa terlalu cepat. Hatiku juga kadang membingungkan, aku sudah tak ingin menunggu lebih lama lagi, tapi ketika kamu datang secepat itu, aku masih saja berkomentar. Bukankah itu manusiawi? 

Sudahlah, aku sudah malas bersembunyi di balik kata itu ketika aku salah. Maafkan aku yang sempat meragukanmu, dan kini aku merasa begitu candu. Aku sudah tidak peduli lagi alasan apa yang membuat kita dipertemukan. Sekarang, yang kupedulikan hanyalah kamu. Ingat, aku tidak mencarimu, tapi aku menemukanmu. 

Dan yang harus kamu tahu, aku sudah membuang jauh masa laluku sekarang. Tak ada yang perlu kamu cemburui. Dan akupun percaya bahwa kamu pun sudah lepas dari bayangan masa lalu mu. Bukan, begitu?

Sekarang aku mengerti, bukan masalah seberapa cepat kamu datang tapi seberapa lama kamu akan tinggal. Dan jika aku bisa meminta, selamanyalah di sini. Mau, kan?

xx

gin-andtonic

 

Advertisements
when i lost something.

when i lost something.

hai, i’m back with another sad story, hiks!

jujur, gue itu adalah orang yang jarang banget cerita kalau gue lagi sedih. pastinya karena gak mau dicap lemah sama orang yang jadi tempat gue cerita. karena gak semua orang itu bener-bener care atau setidaknya bener-bener mau dengerin. apalagi sampai ikut merasakan kesedihan gue, jarang banget kayaknya. selebihnya cuma kepo aja karena gue kadang bisa tiba-tiba berubah sikap sampai bikin mereka bertanya-tanya sendiri.

beberapa hari yang lalu i was having a bad day! gue udah sempet ceritain sedikit sih kemarin. cuma bener-bener sekilas aja.

dan hari ini, gue dapet lagi hari yang menyebalkan!

gue selalu berusaha untuk gak mengutuk sih, semacam melabeli ‘hari sial’ atau apapun. tapi ya jujur aja, bener-bener ngeselin!

dari dulu gue gak pernah nyeritain ketika gue kehilangan sesuatu. barang ya, inget! bukan seseorang, kalau itu sih kayaknya gue udah cukup kuat buat meng-handle nya :’)

sempet sih cerita, makannya gue menemukan alasan kenapa gue gak mau ceritain lagi masalah yang kayak gini. KENAPA COBA?!

karena gue muak dengan judgment orang-orang yang bisa dengan mudahnya bilang ‘MUNGKIN KARENA LO GAK PERNAH SEDEKAH’ instead of saying ‘I’M SORRY FOR YOUR LOSS’!

dude, please! emangnya kalau kita melakukan ibadah harus dibilang-bilang atau dihadapan semua orang biar mereka tahu, gitu? kok bisa segampang itu ya menilai ‘kebaikan’ orang bahkan yang gak terlihat, loh. gak paham gue!

entahlah, gue bener-bener annoyed sama hal kayak gini. karena ya ketika gue kehilangan sesuatu, itu bener-bener ilang karena KETELEDORAN gue. gak ada sangkut pautnya sama sedekah. susah ya bisa ikut ngerasain gimana rasanya kehilangan sesuatu yang penting kaya barang atau uang daripada harus nge-judge yang asal bunyi dan malah bikin lo jadi kelihatan ‘aneh’?

kalau gue sih mikirnya, ketika gue kehilangan barang, itu memang bisa jadi ‘teguran’ karena gue gak menjaga itu dengan baik, bukan karena gue lupa sama kewajiban gue untuk berbagi. lagian, biarlah itu jadi urusan kita masing-masing kan. ngapain repot-repot mikirin kewajiban orang. apalagi dengan cara yang menurut gue ‘kasar’.

jadi sekarang, gue lagi sedih karena baru kehilangan sesuatu. gue gak cerita sama siapa-siapa sih. ya karena tadi, i’m done with it!

gue cerita ini di sini karena gue cuma pengen share bahwa kita harusnya bisa lebih menggunakan hati dalam memberikan respon kepada orang lain ketika mereka menceritakan tentang kehilangan. posisikan deh diri kita di tempat mereka. yakinkan kalau mereka bakal dapet penggantinya yang jauh lebih baik dan kasih tahu mereka bagaimana bisa menjaga kepunyaannya dengan baik.

jauhi kalimat-kalimat yang justru malah terdengar ‘menyalahkan’ mereka kenapa bisa sampai kehilangan. mereka gak minta lo gantiin kok, toh mereka juga pasti sadar mereka salah. they just need you to understand.

remember! cheer them up, don’t bring them down!

xx

gin-andtonic

 

i am only human.

i am only human.

selama gue hidup, tentu apa yang gue selalu coba perlihatkan ke orang-orang itu adalah kebahagiaan; senyum dan seneng-seneng. tapi tentu gak selamanya gue bahagia kok.

gue juga bisa sedih, terlalu emosional, atau cepat marah dan mudah tersinggung. gue manusia. cuma tentunya semakin gue dewasa, gue semakin berusaha untuk sedikit lebih bisa mengontrol hal-hal itu, ya walau terkadang masih kebablasan. as i said, i’m only human.

perasaan-perasaan yang sensitif tadi tentu juga bukan untuk hal-hal yang sepele. kalau masalah bully-an, olokan, udah biasa gue makan sampai perut gue kenyang. ini lebih ke masalah yang jauh lebih personal, masalah hati.

kalau boleh jujur, gue orangnya gampang jealous, tapi ya bukan yang lebay juga. yang sampai jadi bete atau gimana-gimana. gue pasti selalu berusaha untuk gak menunjukkan itu kok. apalagi cemburu terhadap hal-hal yang gak perlu, untuk mengakuinya aja pasti gue mikir dua kali.

contoh kecilnya aja, kadang gue cemburu pas temen deket gue punya pacar atau temen baru. entahlah, itu kayak tiba-tiba langsung ‘nyess’ aja, walau mereka juga gak kemana-mana, gak ninggalin gue, dan gak berubah juga.

sampai akhirnya gue found out, bahwa gue orangnya terlalu mudah untuk merasa takut kehilangan. ya mungkin itu salah satu ketakutan yang masih susah gue kontrol sampai sekarang. gue selalu takut kehilangan seseorang, tentunya orang yang gue sayang. misalnya ketika mereka mempunyai sesuatu hal atau seseorang yang baru atau bisa juga karena mereka masih hidup di dalam bayang-bayang masa lalunya. gue kayak merasakan takut terlupakan atau gimana gitu, entahlah.

and it led me to another fact, kalau gue juga takut banget sama yang namanya perpisahan. gue orangnya gampang sedih, gampang nangis. ibarat nonton film aja gue bisa nangis, apalagi kalau cerita itu gue alamin sendiri. that’s why sometimes i can’t stand some movies which have sad endings.

tiap perpisahan di sekolah gue pasti nangis, disebut cengeng ya sebut aja, gue gak peduli. bahkan gue dulu pernah berpikir bahwa gue lebih baik gak dipertemukan sama siapapun, gue ngerasa dilahap sama kalimat ‘setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan’. jadi gue mikir, yaudah lah mending gak usah ketemu kalau akhir dari segalanya hanya perpisahan, kesedihan, buat gue. konyol emang sih, tapi ya emang gue bener-bener mikir kayak gitu dulu.

dan sekarang perasaan gue lagi gak enak. gue ngerasa kalau gue baru aja menemukan jawaban dari pertanyaan yang beberapa hari ini bersarang di kepala gue. tapi entahlah, gue masih belum terlalu mempercayainya juga, karena cukup menyakitkan. :’)

lo percaya gak sih kalau hampir 100% intuisi kita itu bener? rasa gelisah atau cemas biasanya mungkin jadi pertanda kalau kejadian yang gak mengenakan akan terjadi. setidaknya buat gue itu benar.

sebagai manusia biasa juga gue kadang diselimuti keraguan. tentu gue bisa dan udah cukup pandai untuk mengendalikannya. yang gue bingung itu ketika orang lain ragu sama gue, dan gue harus gimana untuk membuat mereka yakin dan menghilangkan keraguannya?

usaha yang bisa gue lakuin ya hanya sebatas meyakinkan, namanya juga keraguan, ya harus diyakinkan, harus membuat orang itu yakin. tapi apa lo pernah mikir gak alasannya orang itu ragu sama lo itu kenapa? di sinilah intuisi itu berguna.

mungkin ini mulai masuk ke ranah prasangka sih, tapi entahlah, gue cukup yakin dengan suatu hal yang baru gue simpulkan.

dulu dosen gue pernah bilang, ‘ketika pasanganmu curiga berlebihan, sampai berpikir bahwa kamu selingkuh. sampai ia ingin mengecek hpmu dan penasaran dengan semua kegiatanmu. sebetulnya, kemungkinan besar dialah yang selingkuh. ia termakan rasa takut dan kecemasannya sendiri’. masuk akal, kah?

lalu gue mikir, ketika ada seseorang yang terasa terlalu sering nanya ‘do you love me?’, ‘do you miss me?’ seakan dia ragu sama jawaban gue, padahal gue selalu jawab dengan jujur, kalau gue cinta, kalau gue kangen.

salah gak sih kalau gue mikir dia ragu? atau dia takut gue bohongin. padahal faktanya dia yang ragu sama perasaannya sendiri, apakah dia bener-bener suka, sayang sama gue atau nggak? sehingga tanpa sadar he keeps questioning them ke gue, padahal dia sebenernya nanya ke dirinya sendiri. ke hatinya yang terdalam.

gue gak tau tebakan gue ini benar atau nggak. tapi setidaknya gue ngerasa gue udah menemukan alasannya kenapa jika memang dia masih ragu sama gue.

gue cuma mau bilang,

i don’t need you to forget your past, you still can carry it wherever you want. it may be in your heart or in your head, i really don’t mind. but here’s one thing you must know, you are with me now, just don’t make me think that you chose me just to forget someone whom you said you wouldn’t ever forget what you guys did or just to make you feel healed. i want you to choose me because you love me. i’m not a medicine, i am a person, i am a human being.

but, if you can’t, no worries. i will never cry over spilt milk. i chose you because i love you and you made me feel comfortable.

you don’t have to put yourself in my shoes to figure all this out. you know what’s best for you.’

sekali lagi gue cuma manusia, gue juga butuh waktu untuk merenung sampai gue bisa berpikir ke arah sini. gue gak asal menyimpukan. meskipun ini belum tentu benar atau mungkin salah. entah juga faktanya memang benar seperti ini atau ini hanya sebatas luapan emosi gue yang sesaat. gue minta maaf, i am only human.

xx

gin-andtonic

 

should i come?

should i come?

sebelum gue punya blog ini, dulu gue pernah punya satu blog juga yang sama-sama bahas tentang gay. cuma kalau dulu itu lebih ke hal-hal yang umum, berita yang lagi happening, terus gue juga suka post tulisan-tulisan kayak prosa, puisi gue pas zaman SMA. kalau di sini kan gue bener-bener cerita apa yang gue alamin dan bahasa yang gue pake pun ya kayak lagi curhat aja.

beberapa prosa dan puisi yang gue post sebenarnya berdasarkan apa yang gue alami juga sih. prosanya lumayan panjang, ada beberapa judul. tapi semuanya nyeritain dia. jadi dulu pas SMA gue itu naksir sama salah satu temen sekelas yang obviously dia itu seorang straight. 

gue juga gak terlalu paham kenapa dulu gue se-obsessed itu sama dia. tapi emang dia itu bener-bener bikin gue penasaran. kalau kalian pengen baca gimana gue menumpahkan atau menjabarkan dia dan perasaan gue dalam tulisan, mungkin nanti bisa gue post di sini. tapi paling kalau kalian gak terlalu begitu suka sastra, paling bakal kedengeran lebay sih. HAHAHA!

kejadian itu, di mana gue jadi seorang pengagum rahasia, berawal sekitar tahun 2011an lah, pas gue kelas XI. tapi sebelum gue nyeritain dia, gue mau agak lebih mundur lagi pas gue kelas X, di mana gue ketemu sama cewek yang udah nganggep gue kayak kakaknya sendiri.

waktu gue kelas X, gue punya temen cewek yang deket banget sampai orang-orang nyangka kami pacaran. tapi ya jelas nggak, kami emang deket banget aja. dia itu anak satu-satunya jadi gak punya figur saudara gitu, sampai akhirnya dia ketemu gue dan dia terang-terangan ke gue bilang kalau dia mau nganggap gue sebagai kakaknya karena dia nyaman di deket gue. tentu gue gak apa-apa, gue seneng ketika ada orang yang menganggap gue lebih berarti dari sekedar temen ngobrol doang di hidupnya.

sekarang, baru deh gue masuk nyeritain dia; orang yang banyak menyita waktu gue buat nulis banyak prosa sama puisi, HAHA! okay, let’s call him, Umami!

pertama kali gue ketemu sama dia, jujur, gak ada perasaan apa-apa sama sekali. dan kami pun emang gak akrab (sampai sekarang). padahal kami sekelas selama dua tahun, loh. bahkan kalau dihadapkan pada satu kegiatan bareng kayak study group or whatsoever, bisa dibilang hampir gak pernah ada obrolan santai yang nyempil selain emang ngebahas tugas yang lagi dikerjain bareng.

awal mula gue suka sama dia itu pas kami sekelompok untuk teater pantun. dari awal ketika gue tahu gue bakal sekelompok sama dia, gue udah males banget. lo bisa bayangin gak, ketika lo harus menampilkan sesuatu yang lucu but you’re paired up with someone who doesn’t even know where your taste in jokes goes?

sampai awalnya kami kelimpungan bahkan cuma buat nentuin ceritanya mau gimana. dan terbukti ketika pentas pun, cerita kelompok kami yang paling gak jelas, tapi jangan salah, untuk pantunnya, kami dapat yang terbaik, HAHAHA!

ketika beres pentas, otomatis kami pelukan dong satu sama lain. dan pas dia meluk gue, entah kenapa gue ngerasa kayak gue ngerasain hal yang aneh. kalau bisa dibilang sih yang namanya ‘jantung berdegup kencang’ itu emang beneran. agak lebay sih kedengerannya pasti, tapi emang bener kayak gitu.

darisitulah gue jadi penasaran sama dia, sampai gue banyak nulis tentang dia. kalau misalkan ada tugas bikin puisi pasti puisi itu tentang dia. sampai ada beberapa teman gue yang menyimpulkan bahwa ‘objek’ puisi gue ada di kelas, HAHA! saking gue bikin puisinya terasa real. 

baru deh sekarang gue jelasin kenapa tadi tiba-tiba gue nyeritain temen deket gue yang cewek pas gue kelas X. kenapa, hayo?

dia itu hampir selalu jadi orang pertama yang gue suruh baca prosa sama puisi gue kalau gue nulis yang baru. sampai dia bener-bener penasaran dan sempet ngambek ke gue karena gue seakan-akan menutupi hal yang membahagiakan untuk di-share ke dia. karena kalau dia lagi deket sama siapapun, pasti dia suka cerita ke gue. nanya cocok apa nggak, atau curhat-curhat lainnya. tapi ya gak mungkin dong gue cerita hal yang sebenernya.  mati lah gue, bukannya di dukung paling gue di hajar, HAHAHA!

di saat gue lagi rajin-rajinnya bikin tulisan tentang si Umami waktu itu, temen gue itu juga lagi rajin-rajinnya cerita ke gue kalau dia lagi deket sama seseorang. dan dia lumayan lama gak ngasih identitasnya, cuma ngasih clue kalau gue tahu cowok itu siapa. ceritanya mulai ketebak, kan?

sampai akhirnya, dia jujur ke gue kalau dia lagi deket sama UMAMI. YES! lo gak salah denger, UMAMI!

entah kenapa gue sedih banget, gue ngerasa kayak remahan banget. gue habis-habisan bikin si Umami seakan dekat banget sama gue. apapun yang gue tulis pasti tentang dia. sampai bikin banyak orang penasaran tentang dia. dan di akhir gue found out kalau si Umami deket sama temen akrab gue. ya gue juga nyadar sih saat itu kalau gak akan ada kesempatan apapun yang bisa gue dapet, bahkan cuma untuk bisa kenal lebih deket. apalagi gue dulu sekolah di sekolah yang punya konsep agamis, otomatis beberapa di antara muridnya juga agak konservatif, termasuk si Umami ini.

sebenarnya ada beberapa moment yang dulu tuh makin bikin gue penasaran sama dia. dari yang awalnya gue udah mau stop admiring him, tapi gak jadi karena penasaran lagi. dan gue juga males nyeritainnya sih, yang jelas ending nya gue juga gak sama dia, HAHA!

temen gue sama si Umami itu udah pacaran lumayan lama sih. tapi sempet putus juga gara-gara mau berjuang untuk mimpinya masing-masing. cuma ya kalau jodoh gak akan kemana, sekitaran awal tahun ini atau akhir tahun kemarin mereka mutusin buat balikan lagi dengan tujuan yang lebih serius. karena mungkin apa lagi yang mau mereka cari, setelah pendidikan sama karir ada di tangan?

lo bisa bayangin gak gimana perasaan gue dulu? kayak lo ngedengerin curhat, ngasih pendapat ke orang yang pacarnya adalah orang yang lo taksir. dan dia juga sahabat baik lo. selama bertahun-tahun. agak sakit gitu sih, jujur. HAHAHA! tapi ya mau gimana lagi, siapa gue?

dan beberapa hari kemarin, temen gue itu ngasih kabar baik. dia bilang kalau dia mau tunangan, dan gak jauh dari jarak tunangan itu juga dia bakal nikah. NIKAH, guys!

jujur nih ya, ketika gue ketemu sama si Umami pas reunian gitu, itu kaku banget. gak tau kenapa, gue suka ngerasa malu aja. bahkan gue gak pernah ikut acara-acara begituan lagi setelah itu. karena ya gue ngerasa gak bebas aja, dan gue pun gak tau kenapa. jadi ya gue lebih milih gak dateng aja.

karena di satu sisi juga gue ngerasa si Umami itu tahu kalau gue suka sama dia. gue gampang dicurigain, karena gue gak terlalu pandai menyembunyikan sesuatu. ada beberapa kejadian yang gue yakini aja kalau dia tahu semuanya, cuma dia bersikap biasa aja toh kita juga gak deket.

nah, yang bikin gue bimbang itu apa gue harus dateng atau nggak ya ke tunangan atau nikah mereka nanti? tapi temen gue itu maksa banget sih, kalau sampai gak dateng dia bakal marah banget. sampai udah nanya ukuran baju juga, HAHAHA! tapi gue juga pengen banget ngehindarin moment yang pasti bakal awkward banget ketemu si Umami lagi. gue gak tahu, gue gak siap ketemu dia lagi, dan gak akan pernah siap.

walau misalnya ada yang nanya apa gue masih suka atau nggak sama dia, jawabannya jelas NGGAK! gue udah biasa aja, gak ada lagi deg-degan atau perasaan gimana. semuanya udah biasa aja. tapi kalau dipertemukan kembali pasti kaku sih, gue nya yang kaku. lebih ke malu sama diri sendiri mungkin, kenapa gue bisa sebegitu obsesi sama dia.

atau mungkin gue harus dateng ke nikahannya terus gue bilang kalau gue pernah naksir dia dulu pas zaman SMA? hmm, sounds super challenging, HAHAHA!

tenang-tenang, cuma becanda!

xx

gin-andtonic

one of my weaknesses.

one of my weaknesses.

sebenernya kelemahan itu gak perlu ditunjukin atau diceritain kayak gini sih. cuman tujuan gue supaya siapapun di antara lo yang kenal sama gue, akan lebih baik kalau lo tau dulu kelemahan gue sebelum lo mau lebih deket. supaya gak ada yang merasa menyinggung atau tersinggung nantinya.

gue bukan anak yang jago berdebat atau berargumen, kadang kalau gue dihadapkan pada situasi kayak gini, gue malah lebih suka diem. gak selalu artinya setuju, tapi gue lelah aja. pasti banyak pemikiran yang muncul di kepala gue, tapi entahlah gue selalu memilih jadi pendengar daripada harus balik berpendapat.

untuk hal-hal tertentu, gue juga gak segampang itu buat menyerah sih. yang gue maksud adalah dalam hubungan, baik pertemanan ataupun percintaan.

apalagi gue paling males ketika harus berargumen untuk menentukan siapa yang salah atau benar. ujung-ujungnya gue selalu yang mengalah, sekalipun ketika gue benar. tapi ketika gue emang benar-benar ada di posisi yang salah, gue pasti mengakui itu. dan meminta maaf.

terus kenapa gue bilang ini kelemahan gue?

karena kadang, disaat tertentu gue ngerasa terlalu bodoh karena cuma bisa diem. ujungnya gue cuma bisa kepikiran dan nyesel sama diri sendiri. padahal gue punya kesempatan untuk mengutarakan argumen gue, cuma ya karena gue emang benar-benar gak suka arguing, maka dari itu ya gue balik lagi selalu memilih diem. walaupun ya gue bikin kesel diri gue sendiri.

dari zaman sekolah dulu, kita pasti tahu kebanyakan orang tua selalu merasa benar. dan gue sangat bisa membantah pernyataan-pernyataan mereka saat itu jikalau menurut mereka gue melakukan kesalahan yang sebetulnya biasa aja. tapi gue gak pernah memilih untuk melakukan itu, gue hanya pergi ke kamar dan mengunci pintu serta mulut gue.

sampai ketika gue temenan, pacaran, gue selalu jadi orang yang bisa dibilang ‘pasrah’ kalau udah kayak gini, maka dari itu gue cukup gampang dimanfaatkan. yang kadang bikin gue ngerasa kasihan sama diri gue sendiri adalah ketika gue dikadalin, dibohongin, dan gue tahu itu, tapi gue cuma bisa diem aja dan berlaga gak tahu apa-apa. ya begitulah, se-BEGO itulah gue. dan kenapa gue cuma bisa diem? ya karena gue males nantinya pasti nyungseb ke ranah arguing.

gue banyak ngomong kok, gue seneng nyerita. cuma ketika suatu obrolan udah masuk ke ranah arguing, dan sayangnya ketika orang yang lagi ngobrol sama gue bukan tipe pendengar yang baik, misalnya bahkan ketika gue belum beres berpendapat aja dia udah seenak jidat motong omongan gue, ya itulah yang paling gue gak suka. dan yang makin bikin gue gak suka untuk bertukar pendapat.

kalau gue ngobrol, dan gue mengeluarkan beberapa kalimat yang murni dari pemikiran gue, gue gak menunggu dibantah atau dipatahin statement gue. karena gue cuma berbagi, seandainya lo mau respon, lo respon dengan pemikiran lo pribadi juga, gue bakal seneng dengernya. bukan malah mematahkan, menyanggah, lalu membeberkan pemikiran sendiri seakan yang paling benar. berbagi pandangan sama berdebat itu jelas beda, bukan?

dan siapa pula yang having casual conversation tiba-tiba pengen berubah haluan ke ranah untuk saling menjatuhkan supaya salah satu di antaranya terlihat lebih pintar? hmmm, kalau gue sih ogah!

tulisan ini random banget sih, emang. gue juga gak paham gue lagi ngomong apa, HAHAHA!

semoga lo ngerti sih apa yang lagi gue omongin, walau kayaknya gak terlalu nyambung. cuma lagi pengen curhat aja dan udah lama gak nge-post. HEHE!

xx

gin-andtonic

orang pikun.

orang pikun.

udah beberapa bulan belakangan ini gue emang udah jarang pasang foto di dating apps, even it feels like once in a blue moon. karena jujur, gue udah gak terlalu banyak berharap apa-apa selain dapet temen yang emang bener-bener nyambung in real life.

dari kebiasaan gue yang sekarang ini, gue nemu spesies-spesies aneh yang menurut gue sangat mengganggu. lalu, siapakah mereka? JRENG… JRENG… JRENG…!

para manusia-manusia pikun, padahal mereka masih muda. menyedihkan sih. ya begini nih kalau yang di isi kepalanya cuma masalah COCOK-KETEMUAN-DEAL!

seriously, guys. these kind of people got me pissed off recently.

agak susah sih gue nyeritainnya kalau lewat tulisan gini, tapi gue bakal berusaha ngejelasinnya sejelas mungkin.

jadi, udah lumayan banyak gue nemuin orang yang nge-chat gue berkali-kali dengan pertanyaan yang sama.

maksudnya gini. ketika gue pasang foto, mereka ng-chat gue dengan pertanyaan-pertanyaan mainstream kayak biasa lah. tapi gue selalu berusaha jawab, selama gak terlalu aneh-aneh banget.

nah, biasanya gue hapus foto kan kalau lagi males main begituan. terus selang beberapa minggu lagi, gue pasang foto yang SAMA. keanehan mulailah terjadi, tipe-tipe mereka yang kayak gini kemudian tiba-tiba muncul lagi, terus nanya-nanya lagi dengan pertanyaan yang sama persis kayak sebelumnya. LIKE, WHAT?! ini pikun atau gimana, sih?

awalnya gue suka jawab aja gak peduli kalau kami sebelumnya pernah ngobrol. cuma lama kelamaan jenis orang kayak gini yang gue temuin tuh ternyata bukan satu atau dua, tapi BANYAK! dan bikin gue mulai ngerasa capek dan heran sih lebih tepatnya.

sampai kemarin-kemarin gue mulai bales sesuai isi hati gue. kayak,

“kan udah pernah chat sebelumnya.”

“kemarin udah pernah nanya kan?”

“pertanyaannya itu mulu, bosen jawabnya.”

dan beberapa di antara mereka ada yang bilang, ‘lupa’. mungkin saking banyaknya yang diincer. atau ada yang kerasa banget alibinya, karena bukan cuma satu orang juga yang berasalan gini, ‘kemarin baru di uninstall aplikasinya, jadi chat history nya ilang’. lah, terus? wajah gue kan tetep sama, gak berubah mau lo uninstall tuh aplikasi atau bahkan ganti hp sekalipun. coba lain kali agak dipikirin lagi kalau bikin alasan, biar gak terlalu keliatan kurang pinternya. HEHE!

gue selalu berusaha untuk gak menyalahkan pilihan orang, ya namanya juga pilihan kan. yang nentuin diri kita sendiri. dan yang gue tangkep, pilihan orang-orang kayak gini itu ya udah jelas, mereka bener-bener judge people by the look. mereka sangat antusias sama orang yang difotonya bagus. ini jelas gak bermasalah, gue juga gak munafik kok. yang namanya tertarik ya kebanyakan emang dari apa yang terlihat, kan? that’s why kita sering denger istilah ‘dari mata turun ke hati’ atau ada juga ‘love at the first sight’it’s totally normal!

cuma masalahnya, ini dunia maya. kita bisa pastikan, foto yang kita pasang itu pasti foto terbaik kita, kan? bersyukurlah mereka yang bisa tampil bagus di setiap sudut, gak kayak gue yang cuma remahan rengginang. dapet foto bagus satu aja, udah melewati beberapa kali take. ditambah gue juga bukan orang yang banci kamera, jadi emang gue jarang banget foto.

bahkan gue selalu ngomong kayak gini dari awal ketika ada yang minta gue buat buka private media, ‘kalau yang lo cari bener-bener ‘tampang’ nya doang, gue bisa jamin lo lagi ada di tempat yang salah.’

kadang suka ada juga orang yang muji foto gue yang gue rasa agak berlebihan dan justru bikin gue gak nyaman. gue cuma bilang, ‘jangan terlalu percaya foto, gue cuma lagi beruntung dapet angle bagus. dan lo lagi ketipu.’

bukan apa-apa sih, gue cuma bersikap realistis. gue gak pernah nge-claim diri gue jelek, tapi gue emang bukan tipe semua orang. ya lo tahu lah maksudnya ‘tipe semua orang’ itu kayak gimana.

dan buat gue pribadi nih ya, nobody’s born ugly, but we have different preferences. jadi, ketika ada yang gak suka sama lo, bukan berarti lo jelek, tapi lo cuma bukan tipenya dia.

lo bisa bilang Andhika Kangen Band jelek tapi kok banyak yang mau sama dia. jelek di mata lo bukan berarti jelek juga di mata orang lain, kan? semua hanya masalah selera.

kalau lo tipe orang yang bener-bener bisa luluh hanya dengan penampilan luar seseorang, oke-oke aja sih buat gue, tapi jangan dangkal juga dalam menilainya, apalagi menjadian foto sebagai pakem buat lo bisa merasa tertarik sama seseorang. kasus kayak gini lah yang menjadi pemicu seseorang ketemuan sama yang gak sesuai ekspektasi, terus curhat bilang ‘dia difoto ganteng, tapi aslinya jelek pas ketemuan’ yang dia tulis di sosmed sambil marah-marah.

mon maap aja nih ya, kalau menurut gue sih lo nya aja yang dibodohi nafsu. urusan selangkangan yang di duluin, terus ngajak ketemunya di kamar. pulang-pulang marah karena nafsu tidak tersalurkan atau tersalurkan tapi secara terpaksa karena terlanjur ketemu. sedih, gak?

coba biasain ketemu di luar, ngopi bareng. ngobrol, getting to know each other. kalau gak cocok dengan penampilannya, bisa jadi temen, kan? tanpa ada yang perlu dikorbankan, termasuk nafsu birahi lo.

jadi buat kalean semua yang liat foto orang cakep dikit langsung chat, agak dipikirin lagi. apalagi jangan sampai nge-chat berkali-kali ke orang yang sama. coba agak diinget-inget muka dia itu gimana, biar gak bikin orang kesel karena harus jawab pertanyaan lo yang sama berkali-kali.

dan supaya lo juga gak dianggap pikun diusia lo yang masih keitung muda, yang lagi asik-asiknya berburu sana-sini. hingga kadang sampai menelantarkan salah satu bagian penting yang lo punya di tubuh lo.

OTAK! HEHE!

xx

gin-andtonic

 

 

 

 

 

 

 

how i deal with our ‘beauty standards’.

how i deal with our ‘beauty standards’.

terlahir dengan warna kulit yang gelap bisa jadi merupakan sebuah bencana buat orang kita. sebegitu mengerikannya, kah? well, let me tell you my own experience.

gue adalah anak terakhir dari lima bersaudara. dan gue satu-satunya anak yang mewarisi warna kulit bapak gue yang gelap. semua kakak-kakak gue warna kulitnya cerah mengikuti Ibu gue, tipikal warna kulit yang suka dipuji-puji dan pengen dimiliki sama beberapa orang.

dari kecil sebenernya gue gak pernah mempermasalahkan warna kulit gue. justru yang membuat having dark skin terasa seperti masalah adalah orang lain. wait, gue gak bakal bahas terlalu jauh siapa ‘orang lain’ itu. i’ll start from how my siblings treat me since i was a little. 

dari kecil gue suka dipanggil ‘item’ sama mereka. bahkan mereka pernah bilang kalau pas gue lahir itu pas lagi mati lampu, jadi deh item. gue masih gak tau itu cerita beneran apa nggak sih, cuma ya mereka sering banget bilang begitu. kalau kita coba bahas ke ranah bullying, kayaknya ya pegalaman gue ini udah masuk ke situ. bahkan itu dilakukan sama kakak-kakak gue, loh!

tapi, bagusnya sih gue bukan tipikal orang yang gampang sakit hati sama omongan orang yang mempermasalahkan fisik gue (sampai sekarang). ya mungkin emang segala sesuatunya udah disesuaikan, gue dilahirkan ke dalam lingkungan yang ‘kejam’ tapi sudah dilengkapi dengan hati yang kuat. CIEEE HATINYA KUAT, CIEEE…!

sesering apapun dulu gue dapet komentar yang lebih mengarah ke ‘olokan’ dari orang-orang, gue masih belum bisa berpikir jauh apalagi beropini. gue ngerasa ya, gue emang item. yang mereka bilang bener. lalu masalahnya di mana?

contoh komentar yang gue dapet dari temen-temen biasanya kayak gini, “lo kok item banget sih, jangan main layangan terus.” padahal mereka tahu selama gue hidup gue gak pernah yang namanya main layangan.

kalau dari om-tante-tetangga gue, “ini kok kulitnya beda sendiri dari kakak-kakaknya?” gue sih pengennya jawab kayak gini, “terus ini semua salah gue? salah keluarga gue? salah temen-temen gue?”

oh iya, ada satu joke dari guru gue dulu pas gue SMP. ini terjadi pas lagi ujian, kebetulan gue duduk di depan. jelas bukan keinginan gue lah, urutannya kan ditentuin sesuai alfabet.

nah, dateng tuh kan si bapak guru dan langsung duduk. sebelum dia bagiin soal ujian. tiba-tiba dia bilang gini, “barisan ini cerah, barisan ini juga cerah, ini juga cerah, kok barisan itu mendung ya.” jujur, gue gak langsung ngerti lelucon dia itu apa. temen-temen gue juga sih kayaknya, soalnya kami semua cuma diem. sampai si bapak itu mengulang lagi joke nya. niat banget gak sih? HAHAHA! sampai akhirnya semua orang tertawa. dan pada saat itu gue langsung ngerti, karena pas dia bilang ‘mendung’ matanya ngeliat ke gue. gue ketawa aja sih, menghargai orang tua. walaupun pada saat itu gue ngerasa leluconnya sama sekali gak lucu.

setelah kejadian itu gue baru mikir, kayaknya punya kulit item itu rasanya kayak dapet kutukan. orang-orang bisa seenaknya menjadikan hal itu sebagai lelucon. bahkan kalau gue gak ikut ketawa sama joke mereka yang macam begitu, mereka bisa seenak jidat ngomong ‘lo sakit hati? gitu doang sih, lagian cuma becanda.” like? dude please. itu karena emang joke lo yang gak lucu. kenapa jadi lo yang marah?

dan ternyata setelah gue lebih mendalami hal ini, gue melihat secara gak langsung hal-hal kayak gini itu emang udah deket banget sama kita. di mana coba lihatnya? di IKLAN!

iklan-iklan produk kecantikan biasanya punya satu model yang kulitnya gelap, terus gak ada yang suka sama dia. terus dia pake produk yang diiklankannya sampai akhirnya jadi putih, terus jadi rebutan banyak orang.

sekilas sih gak ada yang salah, cuma secara gak langsung memang visualisasi kayak gitu bisa jadi membentuk pandangan orang bahwa cantik itu ya yang kulitnya putih atau yang kulitnya putih itu cantik. padahal sebetulnya kecantikan itu relatif. seseorang bisa menjadi sangat cantik buat A tapi belum tentu cantik buat B. atau sebaliknya.

faktanya banyak orang yang actually stunning ketika mereka punya kulit gelap. buat gue, Tara Basro, Kimmy Jayanti, dll, they are everything. kalau cowok ada Ario Bayu, my celeb crush, HAHA!

yang bikin gue sedikit muak sih, suka banyak orang yang sok ahli. contohnya dibidang fashion. banyak yang bilang kalau warna kulit hitam itu gak cocok pake warna ini itu. gue pernah nonton sebuah video di youtube-nya Wesley Huang, dia pernah bilang (kurang lebihnya) warna itu ada bukan buat membatasi seseorang dalam berpakaian, tapi untuk menciptakan kesan yang ingin ia tampilkan. maksudnya ketika lo pengen terlihat elegan lo bisa pake warna item, atau ketika lo pengen terlihat ceria lo bisa pake warna-warna yang cerah. does it make sense to you? i think it does!

terus kadang suka ada yang gak pede foto di samping orang yang kulitnya putih, iya gak sih? kenapa? there’s nothing wrong. gue sih pede aja foto sama temen-temen gue yang kulitnya putih. gak dosa kok, kok takut? HAHA!

balik lagi ke pengalaman gue pribadi, sampai sekarang gue masih mendapatkan loh ‘komentar’ semacam itu. di tempat kerja sampai ada orang yang terang-terangan mau beliin gue masker sama lulur. like, what?! 

itu kepedulian sih, but i love my skin. mungkin kalau tujuan mereka mengarahkan gue untuk MERAWAT kulit, gue sih kayaknya oke-oke aja. tapi yang mereka tuju itu adalah membuat kulit gue PUTIH. guys, please! i love myself just the way i am. no need to change anything what God has created. He makes no mistakes, we all know, we all really do!

sekali lagi gue bilang, untungnya gue kebal sih dengan komentar-komentar mereka. mungkin kalau gue gampang down, gue bakal berusaha untuk mengubah diri gue sendiri. tapi i was not born to please everyone, apalagi untuk hal semacam ini. kalau gue hidup cuma buat terlihat sempurna di mata orang, sampai gue nikah sama Chris Evans pun gak akan ada ujungnya. mereka diluar sana bahkan bisa dibilang terlalu jeli melihat kekurangan orang, dan bikin gue heran juga sih kenapa negativity selalu jadi hal yang muncul pertama kali di kepala mereka?

mungkin di antara kalian yang baca tulisan gue, gak bisa dipungkiri pasti ada yang menjadi korban atau justru pelaku untuk case ini.  guys, don’t you feel tired of beauty standards? people are beautiful in their own way. sedih banget hidup kita kalau cuma untuk mengikuti apa yang orang lain mau sedangkan faktanya yang menentukan kebahagiaan adalah diri kita sendiri.

gue tahu gak semua orang bisa kuat hadepin masalah kayak gini. apalagi kita harus deal dengan dalih ‘BECANDA DOANG’. satu hal yang sebetulnya orang-orang harus mulai mengerti, emangnya mereka yang terlahir punya kulit gelap itu mereka minta sendiri? IT’S A GIFT! punya kuasa apa lo menghakimi sesuatu hal yang merupakan pemberian, apalagi itu dari Tuhan? Ayo, JAWAB!

xx

gin-andtonic